Kasih Sayang Seorang Ayah

Seperti yang dikisah dari seorang anak yang tentang bapaknya..
Kupastikan aku memang jarang bertemu ayah dibanding ibu lantaran ayah bekerja di luar rumah dan pulang ketika kami bersama-sama letih untuk berbicara satu sama lainnya. Tapi aku percaya, mungkin ibu yang lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaan aku setiap hari, Tapi aku tau sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk menelponku. Semasa kecil, Ibuku lah yang lebih sering menggendongku, Tapi aku tau, ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih, Ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian? Walau beliau tak bertanya langsung kepadaku, karena saking letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku, Ku tau ia kecup keningku dalam tidur ku. Saat aku demam, Ayah membentak ‘Sudah diberitahu, Jangan minum es’ lantas aku merengut, menjauhi ayahku dan menangis didepan ibu. Tapi aku tau ayahlah yang risau dengan keadaanku sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku. Ketika remaja aku meminta keluar malam dan ayah dengan tegas berkata ‘tidak boleh’ dan aku sadar ayahku hanya ingin menjaga aku, karena beliau lebih tau apa yang ada diluar. Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Saat aku sudah dipercaya olehnya, Ayahku pun melonggarkan peraturannya, maka aku pun melonggarkan kepercayaannya, Ayahlah yang setia menunggu diruang tamu dengan rasa yang sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengkontak beberapa temanku, untuk menanyakan keadaanku, dimana dan sedang apa diluar. Setelah dewasa walau ibu yang mengantar ku ke sekolah untuk belajar, tapi aku tau ayah aku yang berkata Bu, temani anakmu, Aku akan pergi untuk mencari nafkah untuk kita berasama. disaat aku merengek memerlukan ‘ini’ ‘itu’ untuk keperluan kuliah ku, Ayah hanya mengerutkan dahi tanpa menolak, Ia memenuhinya dan cuma berfikir kemana aku harus mencari uang tambahaan padahal gajiku pas-pasan dan sudah tak ada tempat lagi untuk meminjam. Saat aku berjaya ayah adalah orang yang pertama berdiri, bertepuk tangan untuk ku, ayah lah yang mengabari saudara saudaranya, anak ku sekarang sudah sukses. Dalam sujudnya, ayah juga tidak kalah dengan doa Ibu, cuman bedanya ia simpan doa itu didalam hatinya. sampai ketika aku menemukan jodoh ku, ayah sangat berhati-hati untuk mengizinkannya. dan akhirnya saat ayah duduk, melihatku diatas perlaminan bersama pasanganku, ayahpun tersenyum bahagia, lantas aku menengok, ayah sempat pergi kebelakang dan menangis. Ayah menangis karena sangat bahagia sampai ia berdoa, Tuhan tugasku sudah selesai dengan baik, bahagiakanlah putra putri ku kecil ku yang manis bersama pasangannya.

Ku akhiri tulisanku ini dengan bait lagu, Untuk Ayah tercinta, Aku ingin bernyanyi dengan air mata di pipiku. Ayah dengarkanlah aku ingin berjumpa walau hanya dalam mimpi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *