Reading Camp – 13 Juli 2020

Yayasan Rumah Bina Cendekia mengadakan sebuah program Reading Camp. Program ini dilaksakan oleh para mahasiswa yang sedang haus akan ilmu. Program ini bertujuan untuk membangkitkan semangat literasi membaca bagi para mahasiswa. Dari seluruh Universitas di Indonesia bersama-sama untuk mendiskusikan mengenai topik-topik yang membuat diri kita menjadi lebih bermanfaat bagi sekitar. Pada panel diskusi yang dilaksanakan di Zoom App.

 

Program ini terdiri dari beberapa sesi. Jam 8.00-8.45 diisi oleh Seminar yang dibawa oleh Kak Dika serta pematerinya adalah Kak Begench.

 

Lalu jam 10.15, kita memulai membuka Forum Group Discussion (FGD) 1 yang dipandu oleh Kak Handika dengan disajikan sebuah topik yang didiskusikan dan dibacakan bersama-sama.

 

Setelah itu, kita membaca mandiri buku-buku yang telah disediakan oleh Yayasan Rubic, tentunya membaca buku ini memiliki target, dimana para mahasiswa harus membaca 100 halaman/hari.

 

Setelah membaca mandiri selesai, kita lanjutkan untuk Acara Forum Group Discussion 2 yang akan dibawa oleh Kak Ihyar.

 

Semoga kita selalu dalam lindungan Allah dan selalu senantiasa untuk membaca dan mensyukuri nikmat Allah yang diberikan untuk kita.

 

Kasih Sayang Seorang Ayah

Seperti yang dikisah dari seorang anak yang tentang bapaknya..
Kupastikan aku memang jarang bertemu ayah dibanding ibu lantaran ayah bekerja di luar rumah dan pulang ketika kami bersama-sama letih untuk berbicara satu sama lainnya. Tapi aku percaya, mungkin ibu yang lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaan aku setiap hari, Tapi aku tau sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk menelponku. Semasa kecil, Ibuku lah yang lebih sering menggendongku, Tapi aku tau, ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih, Ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian? Walau beliau tak bertanya langsung kepadaku, karena saking letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku, Ku tau ia kecup keningku dalam tidur ku. Saat aku demam, Ayah membentak ‘Sudah diberitahu, Jangan minum es’ lantas aku merengut, menjauhi ayahku dan menangis didepan ibu. Tapi aku tau ayahlah yang risau dengan keadaanku sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku. Ketika remaja aku meminta keluar malam dan ayah dengan tegas berkata ‘tidak boleh’ dan aku sadar ayahku hanya ingin menjaga aku, karena beliau lebih tau apa yang ada diluar. Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Saat aku sudah dipercaya olehnya, Ayahku pun melonggarkan peraturannya, maka aku pun melonggarkan kepercayaannya, Ayahlah yang setia menunggu diruang tamu dengan rasa yang sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengkontak beberapa temanku, untuk menanyakan keadaanku, dimana dan sedang apa diluar. Setelah dewasa walau ibu yang mengantar ku ke sekolah untuk belajar, tapi aku tau ayah aku yang berkata Bu, temani anakmu, Aku akan pergi untuk mencari nafkah untuk kita berasama. disaat aku merengek memerlukan ‘ini’ ‘itu’ untuk keperluan kuliah ku, Ayah hanya mengerutkan dahi tanpa menolak, Ia memenuhinya dan cuma berfikir kemana aku harus mencari uang tambahaan padahal gajiku pas-pasan dan sudah tak ada tempat lagi untuk meminjam. Saat aku berjaya ayah adalah orang yang pertama berdiri, bertepuk tangan untuk ku, ayah lah yang mengabari saudara saudaranya, anak ku sekarang sudah sukses. Dalam sujudnya, ayah juga tidak kalah dengan doa Ibu, cuman bedanya ia simpan doa itu didalam hatinya. sampai ketika aku menemukan jodoh ku, ayah sangat berhati-hati untuk mengizinkannya. dan akhirnya saat ayah duduk, melihatku diatas perlaminan bersama pasanganku, ayahpun tersenyum bahagia, lantas aku menengok, ayah sempat pergi kebelakang dan menangis. Ayah menangis karena sangat bahagia sampai ia berdoa, Tuhan tugasku sudah selesai dengan baik, bahagiakanlah putra putri ku kecil ku yang manis bersama pasangannya.

Ku akhiri tulisanku ini dengan bait lagu, Untuk Ayah tercinta, Aku ingin bernyanyi dengan air mata di pipiku. Ayah dengarkanlah aku ingin berjumpa walau hanya dalam mimpi.

Kebohongan Ibu

Perang mempertaruhkan nyawa dengan cara membunuh lawan. Ibu mempertaruhkan nyawanya justru demi hadirnya nyawa baru, anak. Agar kehidupan tetap hidup dan berlanjut. Seandainya laki-laki lebih hebat, lebih kuat dari pada perempuan, tentu tugas melahirkan yang penuh mempertaruhkan nyawa dibebankannya kepada laki-laki, maka alasan apalagi untuk mengatakan kemampuan perempuan dibawah laki-laki. Dan di negeri ini itu tergores sebuah sejarah sejak 22 Desember 1928, oleh para perempuan hebat dalam kongres perempuan dengan inisiator seorang lajang berusia 21 tahun. Ibu pembohong kata mereka, Betul. Seorang Ibu dalam hidupnya membuat banyak kebohongan, Saat makan, jika makanan kurang, Ia akan berikan makanan itu kepada anaknya dan berkata ‘Cepatlah makan, Ibu tidak lapar’ waktu tersisa hanya ikan dan daging dan ia pun berkata ‘ibu tidak suka daging, makanlah nak’. Tengah malam saat ia sedang sakit menjaga anaknya yang sedang sakit, ia berkata ‘ istirahatlah nak, Ibu masih belum mengantuk’. Saat anak sudah lulus, bekerja dan mengirim uang untuk ibu, ia berkata ‘simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang’. Saat anak sudah sukses menjemput ibunya untuk tinggal dirumah besar, ia berkata ‘ Rumah tua kita sangat nyaman, Ibu tidak terbiasa tinggal disana’ Saat menjelang tua ibu sakit keras, anak akan menangis tapi ibu masih bisa tetap tersenyum sambil berkata ‘Jangan menangis, ibu tak apa-apa’. Itulah kebohongan terakhir yang dibuat oleh ibu.

Tidak peduli seberapa kaya kita, seberapa dewasanya kita, ia selalu menganggap kita anak kecilnya, mengkhawatirkan diri kita tapi tidak perlu dan tidak mau anak-anak mengkhawatirkannya.

Semoga anak diseluruh dunia bisa menghargai tiap kebohongan ibunya.
Didalam doa ibu namaku disebut, ibu percayalah didalam doa kami, anak-anakmu, namamu tak pernah putus kami sebut.
Kami terlahir dari cinta, dan cinta itu ibu.

Sebagian orang bertanya-tanya mengapa kita tidak bisa melihat Allah. Bagaimana menjawab mereka?

Melihat adalah masalah kemampuan untuk mencakup. Misalnya, terdapat banyak bakteri di tubuh manusia. Dalam sebuah gigi saja bisa jadi ditemukan jutaan bakteri. Bakteri-bakteri itu dengan kemampuan yangdiberikankepadanya dapat melubangi danmerusakgigi manusia. Namun, manusia tidak mampu mendengar suara atau kegaduhannya sebagaimana ia bahkan tidak merasakan keberadaannya. Di sisi lain, bakteri itu pun tidak bisa melihat dan mencakup manusia. Untuk bisa mencakup dan melihat manusia, ia harus berada di tempat yang bebas dan di luar tubuh manusia serta pada saat yang sama ia juga harus memiliki mata teleskopik. Dengan demikian, ketidakmampuannya dalam mencakup manusia membuatnya tidak bisa melihat manusia. Ia tidak mampu selain melihat apa yang ada di depannya saja. Setelah contoh dari dunia kecil ini, mari kita beralih kepada dunia yang besar.

 

Bayangkanlah engkau duduk di depan teleskop besar yang mampu menjangkau tempat sejauh empat miliar tahun perjalanan cahaya. Meskipun demikian, pengetahuan kita tentang alam dan tentang tempat itu terbilang hanya setetes dari lautan. Mungkin kita bisa mengetahui beberapa teori dan informasi yang tidak begitu jelas seputar bidang atau wilayah yang terjangkau oleh teleskop itu, lalu berdasarkan teori dan informasi itu kita bergegas untuk sampai kepada teori dan informasi lainnya. Namun, kita tetap tidak mampu secara sempurna mencakup alam, baik esensinya dan luasnya maupun bentuk umumnya dan kandungannya,. Itu karena, sebagaimana kita tidak mampu mencakup dengan sempurna jagat kecil (makrokosmos), kita juga tidak mampu mencakup dengan sempurna jagat besar (makrokosmos).

 

Dari sini jelaslah bahwa meskipun kita memiliki mikroskop dan sinar x, kita tidak mampu mencakup secara menyeluruh mikrokosmos sekalipun. Demikian pula kita tidak mampu mencakup secara menyeluruh makrokosmos. Sekarang, marilah kita merenung tentang Allah Swt. Rasul saw. bersabda, “Tujuh lapis langit berada di singgasana (kursi) Tuhan tak ubahnya seperti tujuh keping dirham yang dilemparkan di gurun.” Abu Dzar r.a. mendengar Rasulullah bersabda, “Singgasana (kursi) berada di arasytak ubahnya seperti sebuahcincin besi yangdilemparkan di antara dua penjuru sahara bumi.”[1]

 

Bayangkanlah keagungan yang luar biasa itu! Kalian yang, jika dibandingkan dengan alam ini, ibarat benda-benda kecil yang hanya terlihat dengan mikroskop, bagaimana mungkin mengaku dapat menjangkau seluruh alam? Sedangkan, seluruh tempat dan jagat raya ini, jika dibandingkan dengan arasy Allah, pun laksana benda-benda kecil yang hanya terlihat dengan mikroskop, padahal arasy barulah tempat penerapan kehendak dan perintah Ilahi. Bukankah ini adalah kesibukan yang sia-sia? Jika demikian, apatah lagi kalau engkau berusaha menjangkau Allah Swt.

 

Karena itu, Al-Quran menyebutkan, “Semua mata tidak dapat menjangkau-Nya, sedangkan Dia menjangkau semua mata.”[2] Benar. Semua mata dan pikiran tidaklah dapat menjangkau-Nya dan tidak dapat pula mencakup-Nya. Untuk bisa melihat, perlu kemampuan untuk mencakup. Dia menjangkau semua mata dan penglihatan karena Dia dapat mencakup segala sesuatu dengan ilmu-Nya. Sementara itu, semua mata dan penglihatan tidak mampu menjangkau-Nya. Karena itu, hal ini harus diketahui agar semua aspek masalah ini menjadi jelas.

 

Dari aspek lain, cahaya merupakan hijab dan tirai Allah Swt. Kita tidak mampu bahkan untuk mencakup cahaya-Nya. Para sahabat pernah bertanya kepada Nabi saw. sesudah kepulangan beliau dari mikraj, “Apakah engkau melihat Tuhan?” Rasul saw. menjawab, “Aku melihat cahaya.” Cahaya adalah makhluk Allah Swt, sedangkan Allah adalah Penerang dan Pembentuk cahaya. Cahaya bukanlah Allah. Ia adalah makhluk-Nya. Hal ini ditegaskan oleh hadis lain yang berasal dari Allah Swt. (hadis qudsi): “Hijab-Nya adalah cahaya.”[3] Artinya, terdapat cahaya antara kalian dan Dia. Kalian diliputi dengan cahaya. Di sini ada makna lain. Kami ingin mengatakan sekali lagi bahwa Dia diliputi, namun dengan sifat-sifat-Nya, bukan dengan yang lain, sementara sifat-sifat-Nya bukanlah sesuatu yang lain dari-Nya dan bukan pula esensi-Nya.

 

Ketika kita membahas berbagai masalah yang terkait dengan ketuhanan, persoalan begitu dalam dan sulit hingga berat untuk dipikul. Sebagai kesimpulan, kita bisa mengatakan bahwa Allah Swt. tidak bisa dijangkau oleh penglihatan makhluk dan bahwa hijab-Nya adalah cahaya. Sekarangmarilah kita meninjau masalah ini dari aspek ketiga. Seorang penyair sufi menggubah:

 

Tiada tanding dan tiada bandingbagi Tuhan-Ku Tiada yang menyamai dan menyerupai-Nya Diamahajauh dari seluruhgambaran

 

Dia Mahasuci… Mahatinggi Allah.

 

Pertama-tama, tidak ada tandingan atau lawan bagi-Nya. Hal ini sangat penting. Untuk bisa dilihat, sesuatu harus ada lawannya. Engkau bisa menyaksikan cahaya karena ada lawannya, yaitu gelap. Demikian pula, engkau bisa memperlihatkan pandanganmu tentang panjangnya sesuatu dengan berkata, “Ini satu meter dan ini tiga meter,” karena ada lawannya. Karena itulah, kita bisa meletakkan sesuatu dalam urutan. Allah bahkan tidak seperti cahaya yangbisa engkau lihat karena ada lawannya, yaitu gelap, sebab tidak ada lawan atau tandinganbagi-Nya.

 

Mari kita bahas dari sudut pandangfisika. Berapakah ukuran yangbisa dilihat oleh manusia dari alam yang terhampar di depan matanya ini? Ya, apakah kalian dapat menyebutkan ukuran sesuatu yang bisa kalian lihat? Katakanlah bahwa jumlah sesuatu yang terhampar di alam ini mencapai 1 miliar x 1 miliar agar kita bisa menyaksikan keagungan Sang Pencipta dan menatapnya dengan penuh kekaguman. Namun, penglihatan kita hanya bisa melihat lima persejuta saja darinya, sementara sisanya tidak kita lihat dan tidak kita ketahui. Benar, yang bisa kita lihat hanyalah gelombang cahaya dengan panjang dan frekuensi tertentu. Dengan demikian, renungkanlah betapa cacatnya pertanyaan sebagian orang: “Mengapa aku tidak bisa melihat Allah?” Mereka menanyakan hal ini, sementara mereka tidak mengetahui kalau dirinya sendiri hanya mampu melihat lima persejuta dari alam ini. Sesudah itu, mereka juga ingin meletakkan Allah dalam wilayah yang sama. Sungguh sebuah pemikiran yang kerdil.

 

Pada hari kiamat, orang yang mencurahkan pikirannya di dunia di hadapan ayat-ayat semesta (kauniyah) bisa melihat-Nya. Karena itu, Nabi Musa a.s. dan penghulu para nabi, yaitu Nabi Muhammad saw., ketika itu dapat melihat-Nya. Adapun orang-orang lain akan melihat-Nya sesuai dengan tingkatan masing-masing. Ini merupakan dorongan dan rangsangan yang kuat untuk merenung dan berpikir. Mereka yang ingin menggapai derajat tinggi di akhirat harus memperbarui hati dan pikiran mereka. Lebih tepatnya, di dunia ini mereka harus memiliki perhatian yang tinggi serta jiwa danpemikiranyangsesuai dengankeinginannya untuk bisamelihat Allahpadaharikiamat. Dengan kata lain, mereka tidak boleh meninggalkan dunia ini dengan bekal yang sedikit. Tentu saja, semua sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Sang penyair sufi, Ibrahim Haqqi, mengungkapkan sebuah hadis daif lewat bait-bait syairgubahannya:

 

Sang Mahabenar berfirman, “Aku adalah harta kekayaan yang tidak tertampung oleh bumi dan tidak pula oleh langit, tetapi kalbu dapat menampung-Ku.”

 

Jadi, betapa agung karunia dan nikmat Zat Yang Mahasuci yang seluruh alam tidak sebanding satu butir atom pun di hadapan keagungan-Nya. Betapa besar nikmat-Nya atas setiap mukmin ketika Dia tampak dalam kalbunya sebagai kekayaan sekaligus mengantarkannya kepada ketenangan dan ketenteraman. Akhirnya, Allâh a„lam bi-al-shawâb (Allahlah yang paling tahu tentang apa yang benar).

 

[1] Tafsir al-Thabari,î III, 77. Riwayat tersebut berasal dari Yunus dari Ibnu Wahb dari Ibnu Zaid dari ayahnya.

[2] Q.S. al-An‟âm: 103.

[3] H.R. Ibnu Majah, Pendahuluan, 13.